Sabtu, 26 Februari 2011

Jembatan

Langkah kecil itu tak pernah bosan menyapu bumi
Memancing daun kering membalas senyumnya
Ada setumpuk rindu yang menggunung di dasar Egonya
Dia Jadikan tameng penangkis air mata yang belum di pahami

        Lonceng sekolah berbunyi adalah isyarat
        Bergegas membagi berita yang membosankan
        Kepada mereka yang sibuk mengukur jalan pagi itu
        Akasia di sudut terotoar membawanya bermimpi

Terbangun di bawah matahari yang membakar Mimpinya
Menyapa saku celana agar di beri receh
Untuk Usus yang mulai rapat

         Dia adalah sang penantang hari
         Warnanya lebih terang dari Pelangi
          Lebih merah dari senja yang menuntunnya kembali
          Ke Panti gratis tanpa pengasuh
          Ke Kafe meriah tanpa Home teatre
          Ke Bioskop tanpa pemutar Video dan tiket mahal
          Ke Stadion tanpa pungutan pajak tak jelas

Dia Ke Kolong Jembatan tempatnya menghabiskan mimpi
 Karena Esok masih panjang 
Untuk menjaga napas agar tetap setia menemani raga.
" Dia berterimaksih karena telah dipelihara oleh negara "

Tidak ada komentar:

Posting Komentar