Jumat, 18 Februari 2011

Sekilas Untuk Negeriku

1. Debu di jendela rumah usang
menghalangi cahaya membelai kursi tua di ruang tamu
di sana seorang renta menghitung detak waktu
menatap sebatas kaki melangkah

2. Memang seperti itu raganya beberapa tahun belakangan
tapi jangan lihat dari sisi itu
si tua selalu berpikir jauh menembus kaca jendela rumahnya

3. Hasilnya ada dalam catatan di pangkuannya
yang usang di makan rayap
di sana dia berkomentar tentang negerinya kini

4. Aku dulu adalah pemuda perkasa dan aku bangga akan hal itu
karena merah putih terikat kuat di jidat lebarku
tanganku tak pernah pegal dgan bambu runcing titipan ayahku
dan aku pernah menusuk semangat penjajah yang menyiksa saudaraku

5. Sekarang pemuda lebih perkasa dan lebih tampan
merekapun sangat bersemangat
mencari nama besar dengan membunuh saudaranya
dari segala tingkatan
tukang becak, mahasiswa, sampai pejabat.

6. Ini untuk cucuku yang masih merasa
Indonesia tak pernah merdeka
sebelum hati kalian tak pernah kalian merdekakan.

7. Potongan kecil catatan si tua
Yang masih setia menerawang jauh keluar...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar